Pariwisata 1

Pariwisata 1

Pariwisata 2

Pariwisata 2

Pariwisata 3

Pariwisata 3

Pariwisata 4

Pariwisata 4

Pariwisata 5

Pariwisata 5

Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Februari 2014

River Tubing Kali Oyo

Panjang sungai 1500m dg durasi 1 – 2 jam jika diarungi. Sepanjang aliran sungai terdapat tebing-tebing yg indah dan alami khas batuan karst Gunungkidul. Disana kita bisa menikmati keindahan aliran sungai Oyo dengan menggunakan ban dalam, seperti halnya di goa Pindul. Dengan ditemani pemandu dan peralatan yang membuat kita aman dan nyaman maka tak perlu takut untuk mengarungi sungai dengan kedalaman 7 – 11 Meter ini.

Air terjun yang terdapat di sungai Oyo juga sangat indah, disana pengunjung bisa beristirahat sejenak menikmati alam yang terdapat di sekitar sungai oyo. Selain itu pengunjung bisa juga meloncat dari pinggir tebing yang ada di sungai oyo, tentu saja bagi yang memiliki nyali yang besar, cocok buat yang suka tantangan.

Pada musim kemarau air bisa tenang, sehingga bisa membuat kita relax. Dan ketika debit air bisa banyak (di waktu musim hujan) maka pengunjung bisa merasakan arus yang lumayan deras namun aman. Wisata ini cocok untuk anda berombongan maupun hanya berduaan (dengan pasangan, kalo punya :p).

http://goapindul.com/river-tubing-kali-oyo/

Cave Tebing Goa Pindul

Gua Pindul memiliki panjang sekitar 350 m, lebar hingga 5 m, jarak permukaan air dengan atap gua 4 m, dan kedalaman air sekitar 5-12 m. Goa ini memiliki 3 zona. zona terang, zona remang, dan zona gelap. waktu tempuh sekitar 45 menit.

Cavetubing hampir sama dengan rafting. Jika rafting (arung jeram) adalah kegiatan menyusuri aliran sungai dengan menggunakan perahu, maka cavetubing adalah kegiatan menyusuri gua menggunakan ban dalam. Karena aliran air di Gua Pindul ini tenang maka melakukan cavetubing di Gua Pindul ini juga bisa dilakukan oleh pemula maupun anak kecil bahkan wanita hamil pernah.

Ditengah Gua, ada sebuah ruangan yang agak besar, dengan lubang diatasnya yang warga setempat menyebut sumur terbalik, sinar matahari yang masuk melalui lubang ini membuat suasana semakin indah. Lubang diatas gua inilah dimana seringkali  digunakan sebagai jalan masuk vertikal oleh anggota TIM SAR atau latihan.

Saat anda melakukan susur gua di Gua Pindul ini, anda akan menemukan sebuah stalagtit yang sudah menyatu dengan stalagmit sehingga tampak seperti sebuah pilar dengan ukuran lebar lima rentangan tangan orang dewasa(Soko Guru).

Stalaktit ini merupakan terbesar di Goa Pindul dan mempunyai peringkat no 4 di dunia. Stalagtit putting yg masih aktif siap menanti anda dengan tetesan airnya yang konon bisa bikin cantik n’ awet muda, bagi yg lelaki untuk menambah vitalitas telah ditunggu stalagtit jantan, anda cukup memegang aja udah terasa bedanya…tenane’ lek…. Bagi adik-adik di zona terang bisa berenang, lompat indah sambil lihat ikan cukup besar yg memamerkan keindahan tubuhnya.Ada juga Stalagmit dan stalagtit yang menyatu, menjadi yang terbesar ke-4 di dunia, butuh 5 orang untuk melingkarinya, bahkan celahnya hanya cukup dilewati satu orang saja. Besar ditengah-tengah Goa yang katanya sebagai tiang Goa. Keindahan semakin lengkap dengan adanya ornamen disepanjang dinding Goa seperti mahakarya lukisan abstrak yang tak ternilai. Mata kristal Kelelawar bergelantungan menghiasi lorong goa. Terdapat tirai juga yang tersusun dari tetesan air didinding Goa.

http://goapindul.com/cave-tubing-goa-pindul/

Senin, 24 September 2012

Sarang Kelelawar yang berubah sebagai tempat Doa

Goa Maria Lawangsih itulah nama yang dipakai saat ini satu tempat untuk berdoa seperti halnya goa maria goa maria yang lain ini terletak di Perbukitan menoreh, di dusun Patih Ombo, Desa purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakatra. Secara wilayah gerejawi Goa Maria Lawangsih ini berada di wilayah stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelem Dukuh, Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang.


Sebelum dijadikan tempat doa tempat ini hanya berupa goa yang tertutup gerumbul semak saja, dan sebagai sarang lawa atau kelelawar dalam bahasa Indonesia sehingga namanya disebut goa lawa. Awalnya pintu goa tidak lebih dari 1 meter persegi, namun lorongnya merupakan tempat yang sangat longgar hingga kedalam goa.

Baru pada tahun 1990-an keberadaan Goa ini dimanfaatkan oleh para muda mudi stasi Pelem Dukuh sebagai tempat doa dan jalan salib hingga tahun 2008 tidak ada perkembangan yang berarti atas goa ini. Baru pada bulan Juli 2008 goa ini tersebut dihibahkan oleh pemiliknya yakni keluarga T. Supino yang merupakan ketua stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelem Dukuh kepada Gereja. Setelah itu inisiatif muncul dari Romo Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda Nanggulan yakni Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr. Untuk mengembangkan Goa lawa tersebut menjadi tempatgoa lawangsih, goa maria berdoa yang kemudian dikenal dengan nama Goa Maria Lawangsih tersebut.

Lama kelamaan Goa Maria Lawangsih yang merupakan Goa alam kedua setelah goa Maria Tritis di Gunungkidul yang dijadikan sebagai goa Maria diwilayah keuskupan Agung Semarang. Dan Peresmian serta dibuka untuk umum Goa Lawangsih sebagai tempat peziarahan dilakukan oleh Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pada tanggal 1 Oktober 2009 sekaligus pentahtaan Patung Bunda Maria didalam gua.

Goa Lawangsih selain sebagai tempat doa juga sangat indah untuk dinikmati karena merupakan goa alam sehingga didalam terdapat juga sungai yang kecil yang mengalir serta hiasan stalaktit dan stalgmit yang indah. Keindahan semakin lengkap dengan latar belakang perbukitan menoreh yang Goa maria, goa lawangsihmenakjubkan serta hamparan sawah. Lorong lorong yang ada dibelakang patung Bunda Maria sangat panjang dan sayang untuk dilewatkan. Sedangkan dibagian depan Patung Bunda Maria terdapat gua yang cukup luas tempat ini dinamakan Panti semedi, sebagai tempat doa pribadi atau per kelompok. Didalam ruang panti semedi ini terdapat Patung Yesus Kristus. Bagi para peziarah dapat membawa jerigen atau botol air untuk membawa pulang air yang jatuh menetes melewati stalagmit goa. Hati hati jika anda berkunjung pada musim penghujan karena saat hujan biasanya tempat ini akan tertutup kabut tebal dan juga hawa dingin yang luar biasa.

How to get there :
  •     Dengan Kendaraan Umum dari Yogyakarta jurusan nanggulan dan turun di perempatan kenteng  dan dilanjutkan dengan naik ojek kurang lebih 13 km dengan waktu tempuh sekiat 25 menit.
  •     Dengan kendaraan pribadi baik roda dua maupun empat dengan rute yang sama bisa mencapai depan goa lawangsih.
Tempat terdekat : Sendangsono, Sendang Jatiningsih

Sumber : yogyakarta.panduanwisata.com

Sentolo Yang Mendunia Berkat Serat

Sentolo merupakan satu desa dikapubaten kulon progo, tepatnya di jl. Raya Jogja Wates Km. 17. Dengan pasang surutnya ekonomi dunia demikian pula industry kerajinan yan beroperasional di sentolo ini tempat persisnya di desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo Kabupaten Kulon progo Yogyakarta ini.

Beberapa hasil kerajinan yang dihasilkan oleh desa ini yang berbahan serat adalah anatara lain tas, topi, pajangan rumah dengan berbagai model dan bentuk. Serat yang digunakan sebagai bahan pembuat kerajinan tersebut adalah serat agel, enceng gondok dan pandan serta akar wangi. Kerajinan serat didesa tersebut sudah berkembang sejak tahun 1970, namun pemasaran sangatlah sulit hingga tahun 1980-an, dan mengakibatkan banyaknya pengrajin yang gulung tikar.

Pada saat krisi moneter yang melanda Indonesia tahun 1997 justeru berbuah manis bagi para pengrajin serat ditempat ini. Ini karena para pengusaha dan konsumen lebih memilih produk yang dengan fungsi sama, bentuk juga tidak berbeda tetap up to date namun dengan harga yang lebih murah, kerajinan seratmaka salah satunya adalah beberapa produk yang terbuat dari serat tersebut.

Ini juga tidak lepas dari salah satu tokoh yang bernama Susmirah yang lebih dari 30 tahun menggeluti serat tersebut, dari mulai sebagai pekerja pada sebuah pengusaha serat hingga menjadi pemilik usaha kerajinan serat terbesar di Sentolo. Yang salah satunya juga perannya mendirikan Jogjavanesia Craft Shop di Sentolo tersebut.

Jumlah pengepul disentolo ini sudah lebih dari 13 orang, beberapa diantaranya telah mengekspor produk kerajinannya tersebut ke beberapa Negara seperti jepang dan korea. Setiap pengepul biasanya mensubkan bahan baku kepada pengrajin yang ada di desa salamrejo tersebut yang kerajinan seratjumlahnya sudah mencapai ratusan dengan system borongan. Kemudian para pengrajin mengerjakan serat tersebut dirumah masing masing pengrajin hingga menjadi anyaman yang selanjutnya diambil oleh pengepul untuk dilakukan finishing dengan ditambah hiasan pita dan bunga.

Tiap tiap pengepul tersebut bisa menghasilkan sedikitnya 100 tas setiap minggunya, yang sebagian besar merupakan pesanan dari pulau Bali, Yogya dan sekitarnya selain itu sebagai pajangan di showroom mereka. Walaupun demikian pekerjaan utama mereka yang mayoritas sebagai petani tidak mereka tinggalkan karena pekerjaanmembuat anyaman dari serat tersebut bisa menjadi pekerjaan sambilan yang dikerjakan dirumah mereka masing-masing.

How to get there :
  •     Dengan kendaraan umum dari Yogyakarta naik bus jurusan wates turun di dusun Salamrejo, sentolo di jl. Raya Yogya Wates Km. 17
  •     Kendaraan Pribadi roda dua maupun empat
Tempat terdekat : Pantai trisik, pantai Bugel

Sumber: yogyakarta.panduanwisata.com

Tembok Kecamatan Pengasih, Bukti sejarah Keberadaan Kabupaten Kulon Progo.

Sekilas jika dilihat tembok Kecamatan Pengasih yang merupakan tembok pagar Kantor Kecamatan Pengasih tersebut tidak ada bedanya dengan tembok biasa dan banyak orang tidak mengetahui keberadaan sisi sejarahnya. Namun dibalik itu semua ternyata mempunyai nilai historis yang sangat penting atas keberadaan kabupaten Kulon progo. Keberadaan tembook tersebut berada di Jalan Purbowinoto No. 06 Pengasih, Kabupaten Kulon Progo.

Memang tak ada yang mengira kalau tembok tersebut bernilai historis yang tinggi, hal ini berkaitan erat dengan Kabupaten Kulon progo sebelum bergabung dengan kabupaten Adikarta. Dan setelah bergabung kedua kabupaten tersebut ibu kota kabupaten berpindah ke Wates, sedangkan tempat lama dipakai sebagai Kantor kecamatan Pengasih. Tembok yang masih tersisa saat ini yang menjadi bukti sejarah merupakan pembatas antara rumah rumah penduduk dengan kantor kecamatan pengasih. Sedangkan gedung yang dulunya merupakan perkantoran pemerintah hampir sudah tidak tersisa lagi.

Pada masa agresi militer Belanda kedua tahun 1948 bangunan tersebut hampir saja dibumi hanguskan namun lurah pertama desa tersebut berhasil mencegahnya dan masih berdiri utuh hingga sekarang. Ini merupakan satu-satunya peninggalan Belanda yang ada yang lain yang seumuran dengan bangunan disekitar tembok tersebut sudah rata dengan tanah.  Ketinggian tembok mencapai 150 meter yang berada di sebelah barat Goa sedangkan di Sebelah timur setinggi 200 meter dengan ketebalan masing-masing 40 cm dengan bahan bangunan berupa batu bata serta batu kali utuh. Arsitektur atau bentuk gapura yang sebagai pintu masuk ke kantor kecamatan tersebut berbentuk semar tinandu.

Berulangkali tembok ini seiring perkembangan jaman mulai terusik dan teancam dirobohkan , salah satu saat pembangunan akses jalan menuju waduk sermo diperlebar yakni di jalur sentolo Sermo. Walau hanya berujud tembok karena mempunyai nilai sejarah yang tinggi maka keberadaan Tembok dan gapura tersebut merupakan benda cagar budaya yang harus dilestarikan dan dipertahankan keberadaanya. Dan hal inipun sering menjadi pertentangan namun pada akhirnya beberapa pihak setuju akan keberadaan tembok tersebut untuk tidak di hilangkan mengingat merupakan bagian dari sejarah Kabupaten Kulon progo itu sendiri.

How to get there :
  •     Dengan kendaraan Umum dari Yogyakarta dengan jurusan Yogya Wates dan turun tepat didepan kantor kecamatan pengasih
  •     Dengan kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat melalui rute arah ke waduk sermo lewat clereng

Tempat terdekat : Pemandian Clereng, Margasatwa Sermo

Senin, 10 September 2012

Goa Kiskenda, Pesona Alam Bukit Menoreh

Jika Anda penggemar berat cerita pewayangan, tidaklah lengkap bila belum berkunjung ke Goa Kiskenda. Goa Kiskenda merupakan obyek wisata alam di pegunungan menoreh Daerah Istimewa Yogyakarta.

Goa ini tepatnya terletak di Desa Jatimulyo, kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, bagian barat Daerah Istimewa Yogyakarta. Ruang bumi bentukan alam terletak pada ketinggian 1000 m diatas permukaan laut itu, berjarak sekitar 35 km dari kota Yogyakarta.

Bagi wisatawan yang ingin menuju lokasi perlu membawa kendaraan sendiri atau menyewa mobil, karena angkutan umum yang memadai belum tersedia.

Salah satu rute menuju Goa Kiskenda, yakni dari perempatan tugu Yogyakarta ambil jalan kearah barat menuju Kota Godean. Sampai Kota Godean, teruskan perjalanan menuju wilayah Kenteng, dan lanjutkan ke barat hingga membelah pegunungan menoreh.

Bila anda bertolak dari keraton Yogyakarta, perjalanan bisa ditempuh melalui jalan kearah kota kecil Wates. Sampai di Sentolo ambil jalan ke arah kanan menuju Dekso/Magelang/Muntilan. Kurang lebih tujuh kilometer dari situ anda akan tiba di desa Janti. Anda tinggal ikuti rambu lalu lintas menuju ke Goa Kiskenda.

Pada rute terakhir mendekati lokasi, perjalanan tidak akan mengecewakan. Jalan aspal yang mulus plus pemandangan kiri kanan penuh perbukitan dan jurang terjal hijau memanjakan mata yang menikmati perjalanan wisata. Dalam titik-titik perjalanan kita juga dapat melihat hamparan sawah hijau dan indahnya kota Yogyakarta dari bukit menoreh, ditambah suasana hutan dengan suara khas berbagai binatang.

Meski angkutan umum menuju lokasi belum memadai, namun di lokasi goa, terdapat fasilitas yang mencukupi, yakni taman parkir yang luas, taman bermain untuk anak-anak, dan lokasi untuk berkemah.

Sebelum mencapai mulut goa, pengunjung kali ini harus menempuh anak tangga menjorok ke dalam jurang. Sampai di pelataran goa pengunjung akan disambut relief pertarungan antara Subali dan kedua raksasa penjaga goa. Tak jauh dari mulut goa terdapat pohon besar yang mungkin sudah seusia goa tersebut.

Untuk masuk kedalam goa, kembali, pengunjung harus menuruni anak tangga yang cukup terjal. Suasana di dalam goa begitu dingin, ditambah iringan tetesan air dari langit-langit dengan stalaktit ratusan tahun membuat suasana kuno dan tua semakin kuat. Sementara dari dasar bumi mencuat stalakmit yang tak kalah runcing dari stalaktit.

Di dasar goa air bersih mengalir dari sela-sela rekahan dinding, bahkan setelah masuk di kedalaman tertentu terdengar gemuruh air, menunjukkan derasnya aliran air yang menembus dari salah satu dinding goa.

Menurut legenda cerita pewayangan, alkisah di dalam goa ini akan terjadi peperangan antara Sugriwa (kera merah) dan Subali (kera putih) melawan Mahesasura (raksasa berkepala kerbau) dan Lembusura (raksasa berkepala sapi) sebagai penghuni goa.

Namun, kakak beradik Sugriwa dan Subali sepakat bahwa Subali yang akan masuk ke dalam gua melawan dua raksasa, sedangkan Sugriwa diminta menjaga pintu gua dimana terdapat air mengalir dari dalam mulut gua.

Subali berpesan kepada sang adik, jika air sungai mengalir darah merah maka Subali lah yang menang, dan jika mengalir darah putih maka sebaliknya Subali yang menuai kekalahan dan mulut gua harus segera ditutup agar para raksasa juga ikut mati di dalam gua.

Dalam cerita tersebut air yang mengalir ternyata berwarna merah dan putih. Sugriwa berkesimpulan bahwa pertempuran di dalam gua terjadi sampyuh atau mati keduanya, maka gua pun ditutup oleh Sugriwa karena dianggap tidak ada gunanya lagi.

Padahal yang terjadi di dalam gua, awal pertempuran memang berimbang dan kedua belah pihak terjadi luka sehingga mengalirkan darah merah dan putih. Namun berkat kesaktian kera putih, kedua raksasa dapat ditaklukkan. Ketika Subali akan keluar dari gua, dia panik karena pintu gua telah ditutup. Akhirnya dengan kekuatannya kera putih itu menerobos atap gua dan berhasil keluar. Sehingga di dalam gua Kiskenda, pengunjung dapat menyaksikan lubang yang menyembul ke permukaan perbukitan.

Untuk memudahkan pengunjung menikmati stalagtit dan stalakmit yang mempesona, pengelola telah memasang penerangan di dalam gua. Tata lampu membuat pencahayaan mampu membangkitkan suasana khidmat kepada pengunjung. Sementara efek pencahayaan dan atmosfer gua bagi pecinta wayang bisa jadi menyeret mereka dalam kisah pertempuran kera putih melawan Mahesasura dan Lembusura.

Sumber: Republika Online

Waduk Sermo Membentang di Barat Jogja


Sudah pernah mengunjungi Waduk Sermo saat berlibur ke Jogja? Entah kenapa sejak diresmikan oleh Presiden Soeharto di tahun 1996, saya yang sudah puluhan tahun tinggal di Jogja malah baru beberapa waktu yang lalu mengunjungi tempat ini. Padahal lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota Jogja, Waduk Sermo ini terletak kurang lebih 7 km di sebelah barat kota Wates atau 36 km di arah barat kota Yogyakarta. Saya rasa, bisa jadi memang kurangnya promosi dan informasi yang menyebabkan ketidakpopuleran lokasi wisata yang satu ini.

Waduk Sermo ini merupakan satu-satunya waduk yang berada di kabupaten Kulon Progo. Terbuat dari hasil membendung sungai yang mengalir di pegunungan Menoreh, fungsi utama dari waduk ini adalah sebagai penampung air yang disalurkan PDAM untuk air bersih, irigasi atau pengairan, serta untuk mencegah banjir. Namun pemandangannya yang indah dengan yang view pegunungan menoreh yang menjulang hijau dengan hutan-hutannya yang membentang, sangatlah sayang bila tempat wisata ini hanya sekedar menjalankan peran pengairannya namun lalu dilewatkan begitu saja.

Informasi yang saya ambil dari sumber sana sini, bendungan yang menghubungkan dua bukit ini berukuran lebar atas 8 meter, lebar bawah 250 meter, panjang 190 meter dan tinggi bendungan 56 meter. Waduk ini juga dapat menampung air 25 juta meter kubik dengan genangan seluas 157 hektar. Wow!! luas sekali ya:D .Air hijaunya jadi terlihat seperti hamparan agar-agar raksasa yang dipagari oleh pohon pohon hijau. Kalau ingin berkeliling menelusuri waduk sambil memanjakan diri bersama angin yang bertiup sepoi-sepoi, mudah saja, tinggal memanfaatkan jasa persewaan perahu yang akan berkeliling selama 30 menit. Dan itupun hanya memakan biaya 5000 rupiah per orang. Jogjaaa jogjaaa.. Bahkan soal biayapun sangat-sangat ramah bukan :)

Selayaknya tempat yang tidak terlalu populer (maksudnya tidak sepopuler tempat wisata lain yang ada di Jogja) waduk ini tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Hanya nampak beberapa aktivitas berwisata seperti sekumpulan anak muda yang memancing atau nongkrong. Sayangnya, berulang kali permasalahan akan kesadaran untuk menjaga lingkungan masih saja kurang. Sedih sekali bila melihat ada yang memancing, nongkrong, ngerumpi atau apapun namanya sembari ngemil kacang yang kulitnya tersebar begitu saja di tanah. Memang sih sampah organik, tapi kan tetap saja mengotori sekitar tempat wisata yang indah ini.

Menurut saya, amat lah sayang bila tempat wisata yang potensial ini tidak dioptimalkan fungsinya. Apalagi mengingat biaya pembangunannya yang memakan dana Rp 22 miliar dan dibutuhkan waktu penyelesaian yang tidak sebentar, dua tahun delapan bulan, sejak 1 Maret 1994 hingga Oktober 1996. Bukan hanya itu, untuk pembangunan waduk ini, Pemda Kulon Progo pun harus memindahkan 107 KK untuk ditransmigrasikan ke Tak Toi Bengkulu dan tujuh kepala keluarga ditransmigrasikan ke PIR kelapa sawit Riau. Membayangkan betapa banyaknya pengorbanan masyarakat kulon progo yang merelakan lahannya, sepatutnya kita yang sudah sangat termudahkan akses berwisatanya menghormati tempat ini dan lebih bijaksana dalam bersikap. Yang paling sederhana saja, tidak membuang sampah disembarang tempat :)

Kamis, 09 Agustus 2012

Wisma Sermo Asri Kulonprogo

Wisma Sermo Asri adalah penginapan yang berada di komplek obyek wisata Waduk Sermo. Gedung Wisma Sermo Asri ini sebenarnya milik Pemerintah Kabupaten Kulonprogo yang digunakan sebagai sarana akomodasi bagi kepentingan pemerintah daerah, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum.

Anda dapat menikmati suasana malam di Waduk Sermo dengan bermalam di penginapan ini dengan harga yang sangat terjangkau. Tarif untuk sewa kamar di penginapan ini mulai dari Rp. 50.000 – Rp. 100.000, per 24 jam, murah sekali bukan?.

Di lokasi ini pula terdapat bumi perkemahan atau camping ground, bagi anda yang datang berombongan dan senang berkemah, dapat mendirikan tenda di sini untuk menikmati suasana yang lebih dekat dengan alam.

Kegiatan-kegiatan seperti camping, outward bound, sering dilakukan di sini oleh para pelajar ataupun mahasiswa dari sekolah-sekolah dan kampus-kampus yang ada di Yogyakarta.

Makam Pahlawan Nasional, Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng Serang, namanya mungkin tidak sepopuler dengan R.A. Kartini ataupun Cut Nyak Dhien. Tapi beliau adalah salah satu pahlawan nasional yang telah berjasa pada negeri ini. Nyi Ageng Serang memiliki nama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi, dilahirkan di Serang, Purwodadi, Jawa Tengah pada tahun 1752 dan gugur di Yogyakarta pada tahun 1828.

Nyi Ageng Serang adalah putri dari pangeran Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang.(perbatasan Grobogan-Sragen). Setelah ayahnya wafat Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya. Nyi Ageng Serang merupakan salah satu keturunan dari Sunan Kalijaga, dan beliau juga memiliki keturunan seorang pahlawan nasional yaitu Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara.

Nyi Ageng Serang wafat dan dimakamkan di Kulonprogo, Yogyakarta. Makam pahlawan nasional Nyi Ageng Serang yang menjadi salah satu obyek wisata sejarah di Kulonprogo ini terletak di Desa Banjarharjo, Kalibawang, Kulonprogo. Untuk mengenang jasa beliau, warga Kulonprogo juga membangun monumen Nyi Ageng Serang di tengah kota Wates berupa patung beliau yang sedang menaiki kuda dan membawa tombak dengan gagah berani. Hingga kini banyak peziarah yang datang berziarah ke makam pahlawan nasional Nyi Ageng Serang yang datang dari berbagai daerah.

Kalibiru, Hutan Wisata Alam Kulonprogo

Menyusuri jalan yang berkelok-kelok di perbukitan memang sangat mengasyikkan, selain dapat menikmati keindahan alam dari dekat kita juga dapat merasakan kesejukan ketika berada di pegunungan, karena udaranya yang masih bersih dan bebas dari polusi. Wisata Alam Hutan Kemasyarakatan Kalibiru yang berada di perbukitan Menoreh, Kulonprogo, Yogyakarta menjadi pilihan saya kali ini untuk sekedar refreshing dan membuang penat.

Wisata Alam Hutan Kemasyarakatan Kalibiru berjarak kurang lebih 40 km dari kota Yogyakarta dan 10 km dari kota Wates, ibukota Kabupaten Kulonprogo. Lokasi hutan wisata ini dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat maupun roda dua. Dari pos-pos gardu pandang yang ada di Hutan Wisata Kalibiru ini kita dapat menikmati pemandangan alam yang indah dan mempesona. Lokasi Hutan Wisata Alam Kalibiru  memang berada di perbukitan yang tinggi sehingga dari sini pula kita dapat melihat genangan air Waduk Sermo yang berada di bawahnya. Waduk Sermo terlihat cantik dan seksi dari tempat ini. (weleh-weleh, kayak cewek aja ya cantik).

Tak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk masuk ke lokasi Hutan Wisata Alam Kalibiru, karena biaya masuknya yang murah, Rp. 2.000 per orang, tetapi jika anda ingin menggunakan fasilitas yang ada seperti flying fox, anda akan dikenakan biaya Rp. 10.000 untuk dewasa dan Rp. 5.000 untuk anak-anak. Jika anda datang berombongan dan tertarik untuk mengadakan kegiatan seperti outward bound juga dapat dilakukan di tempat ini. Ada fasilitas rumah Joglo sebagai tempat pertemuan dan enam pondok yang dapat menampung beberapa orang. Juga terdapat home stay di sekitar lokasi Hutan Wisata Alam Kalibiru  dengan tarif per kamar 30 ribu – 100 ribu rupiah per hari.

http://tourism.wienolala.net

Minggu, 08 April 2012

Gembira Loka Zoo Yogyakarta

 
Gembira Loka berarti tempat bersenang-senang. Ide pertama kali muncul pada tahun 1933, namun banyaknya kendala, realisasi pembangunan Gembira Loka baru di mulai pada tahun 1953. Adalah Yayasan Kebun Raya dan Gembira Loka yang bertugas merealisasikannya. Peletakan batu pertama di lakukan pada tahun 1955 oleh Sri Paku Alam VIII, kemudian pembangunan terus berlangsung hingga tahun 1975. Pada tahun itu juga Gembira Loka dinyatakan mandiri.

Dalam usaha untuk mengembangkan Gembira Loka Zoo sebagai lembaga konservasi yang lebih kompetitif dalam hal pelestarian lingkungan dan satwa sesuai tuntutan jaman, Yayasan Gembira Loka Yogyakarta menggandeng PT. Buana Alam Tirta sebagai mitra untuk menangani manajemen Gembira Loka Zoo.



Museum sekaligus Kebun Binatang ini merupakan salah satu museum di Yogyakarta yang koleksinya paling lengkap. Berbagai jenis tubuh-tumbuhan dan hewan baik yang hidup dan mati terdapat di museum ini. Jumlah koleksi tumbuhan di museum ini kurang lebih 60 spesies tanaman langka seperti miri hutan, kepel, randu alas, keben, siperes, dan lain-lain. Sedangkan spesies hewan yang ada sekitar 311 jenis seperti harimau, kida nil, jerapah, anoa, gajah, buaya, dan lain-lain.

Gembira Loka buka setiap hari mulai pukul 07.30 - 17.30 WIB. Harga tiket masuk untuk hari biasa adalah Rp. 12,000.00  dan untuk hari libur adalah Rp. 15,000. Wahana yang tersedia antara lain adalah wahana gajah tunggang, onta tunggang, dan Katamaran Dugong harga tiket Rp 10.000,00. Wahana ATV harga tiket Rp. 20.000,00. Wahana becak air harga tiket Rp. 15.000,00. Wahana jet ski harga tiket Rp. 25.000,00. Wahana bumper boat harga tiket Rp. 20.000,00. Wahana perahu hiu dan boat harga tiket Rp. 20.000,00. Wahana spa ikan harga tiket Rp. 20.000,00. Wahana kolam tangkap harga tiket Rp. 10.000,00.



Akses menuju Gembira Loka sangatlah mudah. Kebun Binatang ini berada di tengah kota. Lokasinya yang sangat dekat dengan Balai Kota Yogyakarta memudahkan untuk mencari lokasi ini. Akses jalan juga sangat mendukung karena dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat atau dengan kendaraan umum seperti Bus Trans jogja.

Senin, 26 Maret 2012

Candi - Candi di Yogyakarta

Candi - candi di Yogyakarta berikut ini adalah sebagian dari candi - candi yang ada di Indonesia. Mungkin selama ini ada di antara anda yang belum mengenal ataupun bahkan belum mengunjungi candi - candi tersebut. Peninggalan sejarah yang maha agung dan layak dilestarikan selain kita banggakan. Mari kita lebih mengenal peninggalan sejarah untuk menambah pengetahuan kita dan semakin membuat kita cinta kepada budaya Indonesia yang tiada duanya.

CANDI GEBANG

Candi Gebang Hindu merupakan warisan dari abad ke - 7 Masehi dan diperkirakan dibangun juga oleh raja dari Wangsa Sanjaya. Candi ini memiliki beberapa kualitas khusus. Candi Gebang terletak di Kecamatan Depok, Sleman, Yogyakarta.

CANDI BARONG

Candi Barong merupakan peninggalan Agama Hindu yang terletak di dusun Candisari, Bokoharjo, Prambanan. Dibuka setiap hari pukul 08.00 – 17.00 WIB. Candi ini berdekatan dengan situs Ratu Boko.

CANDI BANYUNIBO


Banyu Nibo berarti “Air Menetes”. Ini merupakan warisan Budha dari abad 9. Karena terletak jauh dari candi Budha lainnya di daerah terpencil di tengah sawah, maka orang - orang menyebutnya sebagai “Si Sebatang Kara Banyu Nibo”

CANDI PRAMBANAN


Candi Prambanan terdiri dari tiga candi utama yang berketinggian 47 m dan dikelilingi oleh candi kecil yang disebut Perwara. Terletak 17 km dari Yogyakarta, Candi Prambanan merupakan peninggalan dari Agama Hindu dari abad IX. Buka Senin - Minggu ( 09.00 - 17.00 WIB )

CANDI SEWU


Candi Sewu terletak beberapa ratus meter sebelah timur Candi Prambanan. Selain besar dan luas, candi Budha ini mencakup beberapa candi kecil lainnya seperti Lumbung, Asu, Bubrah, dan Candi Lor Kulon

CANDI KRATON RATU BOKO


Terletak 3 km arah selatan dari Candi Prambanan. Kompleks bangunan candi ini terdiri dari gapura, sebuah candi pembakaran, Paseban ( balai ). Pendapa dan kompleks pemandian Keputren.

CANDI SAMBISARI


Terletak 12 km dari Yogyakarta di Desa Sambisari, candi ini ditemukan pada tahun 1966. Berdasarkan penelitian geologis ditemukan bahwa 6 meter candi ini terkubur oleh ledakan bahan Gunung Merapi di tahun 1006. Buka setiap hari pukul 09.00 - 17.00 WIB.

Minggu, 25 Maret 2012

Kaliurang

Kaliurang yang secara harfiah dalam bahasa Indonesia berarti “Sungai Udang“, adalah sebuah tempat wisata yang terletak di provinsi Yogyakarta. Persisnya Kaliurang terletak di Kabupaten Sleman, di perbatasan dengan provinsi Jawa Tengah.Akses menuju ke Kaliurang sangat mudah. Setidaknya dengan jalan kaki atau menumpang angkutan bus, kol (Colt), taxi, ojek atau becak (jarang yang mau), melewati Jalan Kaliurang. Kaliurang adalah sebuah resor atau tempat peristirahatan karena sejuknya udaranya. Maka di sini didapatkan banyak vila-vila penginapan, kebanyakan orang sektar menyebutnya wisma. Tempat yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan baik dalam maupun luar negeri adalah Tlaga Putri.

Kaliurang terletak dikaki bukit plewang arah selatan dari merapi.sekitar 28km ke utara dari jogja. Daerah ini merupakan tempat refresing untuk mereka yang ingin menikmati udara segar dan hijaunya pepohonan. Sebagai objek wisata pegunungan, Kaliurang menawarkan fasilitas akomodasi, villa, bungalow, penginapan seperti halnya fasilitas rekreasi, seperti kolam renang, lapangan tenis, dan taman bermain yang dikunjungi banyak orang.Ketika cuaca baik, Penglihatan yang menakjubkan akan panorama yang diselimuti hutan dari plewangan dan kaliurang, dan hijaunya sisi pedesaan dapat dilihat bahkan birunya samudra Indonesia dapat kita lihat. saat paling tepat untuk melihat panorama adalah saat pagi hari ketika matahari terbit.

Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran

Teletak di desa Nglanggeran Kecamatan Patuk, tempat wisata ini dapat ditempuh sekitar 15 menit atau sekitar 22 km dari kota Wonosari. Gunung Nglanggeran menyajikan pesona tersendiri. Bentang alamnya memiliki keindahan yang secara geologi sangat unik dan bernilai ilmiah tinggi.
Nama Nglanggeran ternyata berasal dari kata planggaran yang bermakna setiap perilaku jahat pasti ketahuan. Ada pula yang menuturkan, nama bukit berketinggian 700 meter di atas permukaan laut ini dengan kata langgeng artinya desa yang aman dan tentram.

DI Gunung Nglanggeran terdapat juga  28 mata air. Tepat di samping Goa Jepang, terdapat sumber mata air yang tak pernah kering sepanjang masa. Warga meyakini sumber berupa rembesan air itu berasal dari telaga mistis yang dijuluki Telaga Wungu. Konon, hanya orang berhati bersih yang mampu melihat keberadaan telaga itu. Air dari gunung Nglanggeran sering diambil abdi dalem dari Kraton Yogyakarta sebagai sarana mohon ketentraman dan keselamatan semua masyarakat DIY.

Potensi Wisata di Bukit Nglanggeran bagian barat

Lokasi ini oleh masyarakat sekitar disebut Song Gudel ( Kandang Anak Kebo ), karena dilokasi tersebut terdapat batuan besar yang “disonggo” batuan yang lebih kecil dan membentuk seperti goa, yang menyerupai kandang. Pemandangan sekitar lokasi berupa gundukan batuan besar dan ada variasi vegetasi disekitarnya, seperti sengon dan akasia. Dari lokasi ini menuju lokasi selanjutnya yaitu Zona Senthong kurang lebih memakan waktu 3-5 menit.

Lokasi yang kedua disebut Zona Senthong (celah dua bukit), pada lokasi ini wisatawan akan disuguhkan dengan himpitan dua tebing yang harus dilalui agar sampai ke lokasi selanjutnya. Dilokasi in wisatawan turut diuji, karena jarak antara celah awal sampai dengan jarak celah akhir cukup jauh kurang lebih 50m dan harus terus merayap.

Nah sebelum menuju ke lokasi ke 3, wisatawan bisa beristirahat sejenak dan menikmati pemandangan alam yang begitu mempesona lewat Shelter (saung) yang telah disediakan oleh pihak pengelola/Karang Taruna Bukit Putra Mandiri desa Nglanggeran.

Lanjutkan perjalanan menuju lokasi ke 3 yaitu Tlatar Gedhe yang memakan waktu kurang lebih 10 menit dari Zona Senthong (tidak istirahat di Shelter). Jalur yang ditempuh cukup menantang, melewati batuan vulkanik, dan sesekali melewati semak belukar tetapi jangan menyerah dulu karena dilokasi ini panorama yang disuguhkan begitu indah dari tipe vegetasi yang bervariatif sampai bentang alam yang memiliki perbedaan warna yang mencolok. Suasana ini sangat meningkatkan kualitas pemandangan dilokasi Tlatar gedhe. Dari Tlatar Gedhe menuju Gunung Kelir menghabiskan waktu kurang lebih 10 menit.

Dari Tlatar Gedhe kita bisa melanjutkan perjalanan menuju lokasi ke 4 yaitu Gunung kelir, dinamakan Gunung Kelir karena bentuk gunungnya datar menyerupai kelir dalam pewayangan yang merupakan kain putih latar dimana wayang dimainkan. Mitos yang berkembang dimasyarakat adalah jika ada pertunjukan wayang di sebelah barat laut/membelakangi gunung ini maka bisa diramalkan akan terjadi kejadian yang tidak diinginkan. Oleh sebab itu masyarakat sekitar selalu menghindari hal-hal tersebut. Dilokasi ini pula terdapat himpitan 2 bukit yang mau tak mau wisatawan harus melewatinya agar bisa sampai ke lokasi selanjutnya yaitu “Sumber Comberan” yang dimana setelah melewati celah tersebut kita akan sampai pada sebuah lokasi yang tidak terlalu luas didalam, dan terdapat sumber mata air di puncak. Dilokasi Sumber Comberan ini biasanya juga digunakan sebagai tempat Ritual bagi mereka yang percaya akan dunia mistis untuk mendapatkan wahyu dan keberhasilan apa yang diinginkannya.

Menuju lokasi selanjutnya yang tak kalah menarik pula yaitu Puncak Gunung Gedhe. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan menuju lokasi ini sekitar 15 menit dari Sumber Comberan mampu terbayarkan dengan pemandangan yang aduhai dan sangat mengesankan, karena bukit-bukit yang kita lalui tadi dari selama perjalanan Nampak dari Puncak Gunung Gedhe. Tak bisa dipungkiri memang wisatawan betah berlama-lama dilokasi ini, karena memang pemandangannya sangat cocok untuk diabadikan.

Setelah naik bukit ynag penuh tantangan dan melelahkan namun mengasyikan, wisatawan diajak menuruni bukit menyusuri hutan rakyat ytang memiliki komposisi tegakan seperti sengon, Mahoni, Jati, dan beberapa lahan pertanian seperti jagung, ketela, dll. System Agroforestri memang sangat cocok diterapkan oleh masyarakat desa, karena selain menjaga kebutuhan  ekosistem dan ekologi mereka mampu memberdayakan lahan untuk tanaman pangan. Perjalanan kali ini cukup memakan waktu yang cukup lama sekitar 45 menit menuju lokasi berikutnya. Lokasi yang dituju yaitu pemandangan Bukit Wayang Abimayu. Dilokasi ini sekali lagi disuguhkan keindahan dari Sang Pencipta yaitu berupa puncak-puncak yang berupa batuan menjulang tinggi dan memiliki relief alam yang menakjubkan.

Lokasi selanjutnya adalah Goa Kaliwiyu. Goa ini belum di eksplorasi keanekaragaman hayatinya sehingga wisatawan hanya bisa menikmati perjalanan sampai dimulut goa saja. Dari lokasi sebelumnya kurang lebih menghabiskan waktu 8 menit perjalanan hingga ke lokasi ini.

Lokasi yang terakhir adalah Pemandangan air terjun musiman yang dari namanya saja sudah jelas bahwa air keluar dimusim hujan saja melewati celah-celah batuan. Selain itu terdapat point-point panjat tebing yang memang sengaja dibuat untuk wisatawan yang ingin menguji adrenalinnya. Lokasi ini cukup dekat dengan pendopo Joglo Kalisong yaitu kira-kira 50 meter desebelah timur pendopo.

Terdapat juga paket wisata:
Tiket: Rp. 3.000 (siang); Rp. 5.000 (malam)

Paket Wisata:

Paket Tracking (minimal 3 orang): Rp. 25.000 / orang
Tiket, guide, jelajah desa, kelapa muda / dawet khas Kalisong
Paket 4 jam di Dewa Pesona Purba (minimal 5 orang): Rp 35.000 / orang
Tiket, guide, jelajah desa, belajar budidaya kakao, kelapa muda
Paket Outbond 1 (minimal 40 orang): Rp 50.000 / orang
Tiket, guide, jelajah desa, game, belajar budidaya kakao, kelapa muda / soto omahan
Paket Outbond 2 (minimal 40 orang): Rp 100.000 / orang
Tiket, guide, jelajah desa, game, belajar budidaya kakao, flying fox, makan 1 X, snack 2 X
Paket Puncak Timur: Rp 100.000
Tiket, guide, jelajah desa, Tlogo Guyangan, misteri desa 7KK, sunset Nglanggeran, kelapa muda
Paket Sunset & Sunrise: Rp 300.000
Tiket, guide, jelajah desa, homestay, Nglanggeran sunset, Nglanggeran sunrise, snack 2 X

Keterangan: Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran dikelola sepenuhnya oleh Karang Taruna Desa Nglanggeran. Untuk informasi dan reservasi bisa menghubungi Sugeng Handoko (+62 818 0260 6050); Heru Purwanto (+62 818 0410 3999)

Sumber: dari berbagai sumber dan dirilis dari Yogyes.com, kalisongku.wordpress.com

Jumat, 23 Maret 2012

Air Terjun Sri Gethuk, Surga Tersembunyi di Gunungkidul

Gunungkidul memiliki pesona yang tidak akan habis untuk dijelajahi. Air terjun Sri Gethuk adalah salah satu tempat yang harus Anda jelajahi saat berkunjung ke Gunungkidul. Air terjun ini sangat elok dipandang.

Air terjun Sri gethuk terletak di Padukuhan Menggoran yang berdekatan dengan lokasi wisata Gua Rancang Kencono. Air terjun ini tidak pernah kering dan akan menjadi objek foto yang menarik.

Air Terjun Sri Gethuk atau dengan nama lain Air Terjun Slempret memiliki keunikan tersendiri karena bercabang pada dua celah tebing dan muncul dari sela-sela tebing karst yang gersang. Air tejun ini memiliki ketinggian sekitar 80 meter dan berada tepat di tepi Sungai Oyo.  Ada tiga sumber mata air yang menyembur di sekitar air terjun Sri Gethuk, yaitu mata air Dung Poh, Ngandong dan Ngumbul.

Dinamai Air terjun Sri Getuk atau Sri Ketuk karena menurut kepercayaan masyarakat setempat pada masa lalu, sering terdengar suara gamelan, yang diyakini milik raja jin Slempret yang bernama Angga Mendura.  Konon, keberadaan air terjun ini merupakan lokasi pasar jin. Di malam-malam tertentu, masyarakat sering mendengar bunyi-bunyian seperti slompret dari arah air terjun itu. Tapi jika suara itu didekati, suara tersebut akan menghilang. Makanya, masyarakat menyebutnya Air Terjun Slempret.

Air Terjun Sri Gethuk dapat ditempuh dari kota Wonosari ke barat melalui Playen, sekitar 5 km, atau yang dari Yogya bisa belok kiri di pertigaan Gading menuju Playen, dari kota Playen ambil jalur menuju Paliyan kira-kira 1 km sampai menemukan papan penunjuk arah ke Air terjun Sri Gethuk. Ikuti penunjuk arah itu ke barat,  kira-kira 7km. Papan penunjuk arah sampai Air Terjun yang berjumlah banyak sangat mudah diikuti bahkan oleh pengunjung yang belum hafal daerah

Air yang mengalir dari tebing yang memiliki ketinggian 58 meter ini jatuh ke hamparan Sungai Oya dengan keindahan yang eksotis yang diwarnai dengan gemericik suara air ditambah hiasan daun nyiur yang melambai. Kawasan Air terjun ini juga didukung dengan 3 sumber mata air yang cukup besar yakni sumber mata air Dong Poh, Ngandong dan Ngumbul dengan rata-rata debit 30 sempai dengan 60 liter per detik.

Sumber : http://travel.detik.com

Daftar pantai di Gunungkidul Yogyakarta


Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan laut selatan, Kabupaten Gunungkidul mempunyai obyek wisata pantai handal yang melimpah. Keindahan kecup laut dan daratan menjadi potensi pariwisata kabupaten Gunung kidul yang akan menjadi penyumbang bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berbatasan dengan Solo/Surakarta ini. Berikut adalah daftar obyek wisata di Gunungkidul yang menghamparkan keindahan tiada tara :

  1. Pantai Banyunibo : Purwodadi, Tepus
  2. Pantai Baron : Kemadang, Tanjungsari
  3. Pantai Busung : Purwodadi, Tepus
  4. Pantai Butuh : Karambilsawit, Saptosari
  5. Pantai Drini : Banjarejo, Tanjungsari
  6. Pantai Gesing : Girikarto, Panggang
  7. Pantai Grigak : Giriwungu, Panggang
  8. Pantai Jagang Kulon : Purwodadi, Tepus
  9. Pantai Jogan Wetan : Purwodadi, Tepus
  10. Pantai Karangtelu : Girikarto, Panggang
  11. Pantai Kelosirat : Purwodadi, Tepus
  12. Pantai Kesirat : Girikarto, Panggang
  13. Pantai Klampok : Girijati, Purwosari
  14. Pantai Klumpit : Purwodadi, Tepus
  15. Pantai Krakal : Ngestirejo, Tanjungsari
  16. Pantai Krokoh : Songbanyu, Girisubo
  17. Pantai Kukup : Kemadang, Tanjungsari
  18. Pantai Lambor : Purwodadi, Tepus
  19. Pantai Langkap : Karambilsawit, Saptosari
  20. Pantai Muncar : Purwodadi, Tepus
  21. Pantai Nampu : Giriwungu, Panggang
  22. Pantai Ngandong : Sidoharjo, Tepus
  23. Pantai Ngetun : Purwodadi, Tepus
  24. Pantai Ngobaran : Kanigoro, Saptosari
  25. Pantai Ngondo : Purwodadi, Tepus
  26. Pantai Ngrenehan : Kanigoro, Saptosari
  27. Pantai Nguluran : Purwodadi, Tepus
  28. Pantai Ngungap : Purwodadi, Tepus
  29. Pantai Ngunggah : Giriwungu, Panggang
  30. Pantai Nguyahan : Kanigoro, Saptosari
  31. Pantai Pakundon : Purwodadi, Tepus
  32. Pantai Parangedong : Girijati, Purwosari
  33. Pantai Parangracuk : Kemadang, Tanjungsari
  34. Pantai Sadeng : Pucung, Girisubo
  35. Pantai Sawahan : Purwodadi, Tepus
  36. Pantai Sepanjang : Kemadang, Tanjungsari
  37. Pantai Siung : Purwodadi, Tepus
  38. Pantai Slili : Sidoharjo, Tepus
  39. Pantai Songlibeg : Purwodadi, Tepus
  40. Pantai Sundak : Sidoharjo, Tepus
  41. Pantai Timang : Purwodadi, Tepus
  42. Pantai Torohudan : Kanigoro, Saptosari
  43. Pantai Watugupit : Giricahyo , Purwosari
  44. Pantai Watutogok : Purwodadi, Tepus
  45. Pantai Wediombo : Jepitu, Girisubo
  46. Pantai Weru : Purwodadi, Tepus

Kraton Yogyakarta


Kraton Yogyakarta adalah obyek utama di Kota Yogyakarta. Bangunan Bersejarah yang merupakan istana dan tempat tinggal dari Sultan Hamengku Buwana dan keluarganya ini berdiri sejak tahun 1756. Kraton Yogyakarta dengan segala adat istiadat dan budayanya menjadi ruh kehidupan masyarakat Yogyakarta. Kraton Yogyakarta juga menjadi obyek wisata utama di Kota Yogyakarta baik dari sisi peninggalan bangunannya maupun adat istiadat yang ada di dalamnya. Di Kraton Yogyakarta di samping dapat dinikmati keindahan masa lalu melalui arsitektur bangunannya, dapat juga dinikmati kesenian tradisional yang disajikan setiap harinya di Bangsal Manganti. Saat ini Kraton Yogyakarta ditempati oleh keluarga Sultan Hamengku Buwana X yang menjadi raja sekaligus gubernur di Yogyakarta.

Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755. Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman.

Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan). Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta.

Kamis, 22 Maret 2012

Kalisuci Gunungkidul,Yogyakarta

Kenapa di namakan Kalisuci??
Disebut Kalisuci karena di Kalisuci terdapat mata air yang terletak disebelah atas aliran sungai yang airnya sangat jernih dan tetap jernih meskipun air sungai keruh ketika musim hujan. Sumber mata air ini dulunya merupakan satu-satunya sumber kehiduoan masyarakat sekitar untuk mencukupi kebutuhan air sehari-hari, baik untuk minum, mandi, cuci dan lain-lain. Tanpa dimasak, air dari sumber air Kalisuci bisa langsung di minum tanpa takut akan sakit, karena sumber air tersebut belum tercemar limbah apapun.








Menurut cerita sesepuh dusun sumber mata air Kalisuci dipercaya bisa menyembuhkan penyakit walaupun belum pernah diuji kebenaran cerita tersebut.